Tuesday, October 20, 2009

Kisah Seorang Pelajar Jerman Berjuang untuk Solat


Seorang Pelajar Jerman Berjuang untuk Solat
Monday, 05 October 2009 13:21

Perjuangan seorang pelajar Muslim agar dapat solat di sekolah akhirnya berhasil. Pengadilan menetapkan sekolah harus memberikan hak beribadah kepadanya.

Sebagian Muslim ada meremehkan kewajiban solat, meskipun berada dalam situasi yan sangat membolehkan untuk solat. Mereka menundanya atau bahkan tidak melaksanakan kewajiban itu.

Namun, tidak demikian halnya dengan pemuda Jerman satu ini. Baginya shalat di mana pun harus tetap dilaksanakan. Pemuda itu namanya Yunus M., berusia 16 tahun. Ia mengajukan tuntutan hukum terhadap sekolahnya, kerana ingin diperbolehkan solat di sekolah.

Tuntutan hukum seperti itu pertama kalinya terjadi di Jerman. Mengacu kepada kebebasan beragama, pengadilan admin di Berlin akhirnya menetapkan keputusan pada Selasa (29/9) bahawa solat yang dilakukannya tidak mengganggu waktu persekolahan.

Pengadilan mengatakan, hak dasar kebebasan beragama tidak hanya mengacu pada kebebasan rohaniah sebuah kepercayaan, tapi juga kebebasan fizikal untuk melakukannya, termasuk di dalamnya adalah berdoa -- dalam hal ini solat. Hal itu (kebebasan beragama) tidak terlaksana jika murid yang taat itu hanya di benarkan solat di luar sekolah.

Jurubicara pengadilan, Stephen Groscurth mengatakan bahwa dengan kes itu, “Siswa-siswa Muslim lainnya boleh merujuk pada kes itu."

Sekolah dengan demikian berkewajiban memperbolehkan Yunus untuk solat dalam ruangan terpisah, di luar jam pelajaran selama 10 minit. Pengetua sekolah, Brigitte Burchardt, mengatakan bahwa dirinya kecewa atas keputusan itu. Menurutnya, keputusan itu mendahulukan lainnya dan jadual persekolahan.

“Ada lapan lagi murid yang mengajukan perlakuan serupa. Saya tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya,” demikian katanya.

"Saya harus memperhatikan hak 650 murid," kata Burchardt. Sekitar 90 peratus berlatar belakang imigran. Semua agama besar belajar di sekolah menengah Diesterweg di Berlin-Wedding itu.

Namun hakim yang memutuskan perkara, Uwe Wegener, berpendapat, ia tidak melihat adanya bahaya yang parah jika ada banyak siswa yang menuntut ruang untuk solat. Wegener juga mengatakan, ia tidak menemukan dalam kes ini bahwa solat yang dilakukan Yunus boleh menyebabkan konflik di kalangan siswa dari berbagai agama dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

Senator Pendidikan di Berlin mengatakan kebimbangan bahawa keputusan itu akan memaksa sekolah-sekolah umum melaksanakan pengkelasan pelajar berdasarkan agama.

"Meskipun demikian, tentu saja pihak sekolah akan tetap melaksanakan keputusan pengadilan," kata pihak Senat. Ketua dari dewan yang mewakili pemerintah kota dan ketua pelajar, Andre Schindler, mengatakan, organisasinya bimbang keputusan hakim itu akan
mengurangi keinginan siswa Muslim bercampur dengan yang lain. Dewan itu mengusulkan Senat Pendidikan Berlin untuk mengajukan perundingan.

Tapi pihak senat mengatakan, pihaknya akan banding setelah mengkaji keputusan yang ditulis hakim tersebut.

Pendapat pakar
Wegener mengatakan, Yunus telah berhasil memberikan bukti yang boleh
diterima, iaitu kewajiban agama bagi dirinya untuk melaksanakan solat lima waktu. Ia tidak melihat kemungkinan untuk tidak melakukan solat selama berada di sekolah. “Hal itu tidak mungkin dilakukannya,” kata Wegener.

Pengadilan mendasari keputusannya pada pendapat pakar Islam. Pakar Islam dan profesor hukum dari Universitas Nuremburg-Erlangen, Mathias Rohe, memberikan kesaksian sebagai seorang pakar dalam persidangan.

Rohe mengatakan kepada pengadilan bahwa apa yang diminta Yunus merupakan sebahagian dari ajaran Islam, yang bererti merupakan sebahagian dari kebebasan beragama. Rohe mengatakan, itu bukanlah kes dari seorang ektremis yang ingin melaksanakan sesuatu "dengan cara apapun."

Kes ini pertama kali merebak di tahun 2007 ketika pengetua sekolah, yang sangat memegang teguh tradisi sekular, melarang Yunus dan kawan-kawannya untuk solat. Tidak terima dengan larangan itu, pemuda yang beribukan wanita Turki dan ayah seorang Jerman --yang kemudian memeluk Islam-- itu akhirnya mengajukan tuntutan ke pengadilan. Dan ia menang.

Pada keputusan pengadilan sebelum March 2008, pengadilan memerintahkan kepada pihak sekolah agar memperbolehkan remaja itu shalat satu kali pada waktu rehat di sekolah. Sejak itu, sekolah mengizinkannya untuk solat di sebuah ruangan khusus yang disediakan, selama 10 minit dalam sehari.

Sebelumnya, Yunus melakukan solat di lorong sekolah dengan beralaskan jaket, sementara siswa-siswa lain yang berlalu-lalang menyaksikan apa yang dilakukannya.

Islam dan Eropah
Eropah dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Liberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Uthmaniyyah (1389), yang memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu.

Lima tahun setelah runtuhnya pemerintahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, Abdurrahman I yang bergelar Al-Dakhil berhasil mendirikan Kekhalifahan Umayyah baru di daratan Eropah.

Pada masa kepemimpinan Abdurrahman III, di pusat pemerintahan berdiri Universitas Cordoba. Menurut Sejarawan Said Al-Andalusi, sang Khalifah juga mendirikan perpustakaan megah dengan koleksi buku yang sangat banyak. Ia menempatkan para sarjana medikal dan ilmu pengetahuan lainnya dalam posisi yang tinggi serta terhormat.

Saat itu, kota Cordoba dikenal sebagai salah satu pusat ilmu kesihatan dan filsafat berpengaruh di dunia, setelah Baghdad. Naungan para penguasa itu telah mendorong ilmu pengetahuan serta teknologi berkembang begitu pesat di Kekhalifahan Umayyah Spanyol.

Banyak pakar sejarah dan sosiologi menilai, Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropah dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropah terbelakang di bidang medikal, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

Dalam beberapa kajian terbaru, di sebagian besar negara-negara Eropah, agama Islam kini telah menjadi agama terbesar kedua dan kewujudanyanya telah “diakui” pemerintah. Salah satu negara Eropah yang memiliki penduduk Muslim besar adalah Jerman, dengan jumlah berkisar 3.7 juta jiwa.

Fenemona yang cukup menarik ketika umat Islam mendapat pandangan negatif akibat kes WTC 11 September, oleh kerana kes ini peningkatan kebencian orang-orang Jerman terhadap Islam cukup tinggi.

Majalah ternama Jerman Der Spiegel pernah menyebutkan bahwa bulan Julai 2004 dan Jun 2005 saja terdapat sekitar 4000 orang di Jerman masuk Islam. Kebanyakan para muallaf berasal dari kalangan terpelajar.

Komunitas Muslim jumlahnya mencapai 5% dari total populasi Jerman. Populasi Protestan mencapai 33% dan Katolik 33% dari keseluruhan jumlahnya penganut Kristian yang berjumlah sekitar 55 juta orang. Kaum Muslim di Jerman kebanyakan dianut oleh keturunan imigran dari Turki.

Menurut laporan majalah Focus, sejak 2004 jumlah masjid di Jerman terus bertambah. Hingga kini tercatat ada 159 masjid. Itu belum termasuk 184 masjid yang tengah dibangun dan 2.600 ruangan yang disewa untuk kepentingan ibadah umat Islam. Fenomena Yunus, mungkin hanya kes awal bagaimana gelagat warga Eropah mengenai agama Islam.

Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28



No comments:

Custom Search